Archive for February, 2008

pengharapan (dan maaf)

sepanjang hari merah muda kemarin, kepalaku masih penuh dengan pikiran dan penyesalan, tentang mengapa sebuah hubungan harus berakhir… dan setelah kebisuan pikiran itu, tiba-tiba jawabannya muncul. menghantam dengan keras, menampar dan aku terbangun karena sakit…
selama ini, aku berharap dia menerima aku apa adanya, tapi apakah aku menerima dia seperti apa adanya dia?
tidak!
sebuah bayangan maya akan dia yang ideal menghantui, selalu ada, tapi tak pernah terlihat. bukan dia, tapi tercampur dalam pikiranku, siapa dia sesungguhnya dan siapa dia yang kuinginkan.
karena itulah aku menuntut–dia tidak
aku kecewa–dia tidak
aku mungkin malu–dia tidak
karena dalam ketulusannya, dia tidak berharap, tidak menuntut, tidak berangan-angan. mungkin dia paham benar apa maksud ketaksempurnaan. mungkin dia tau benar bedanya harapan dan kenyataan. atau mungkin dia hanya mengerti seperti apa sesungguhnya mencintai itu…
aku tidak!
setidaknya sebelum kemarin…
dan maafkanlah aku, karena menarik dia dalam sebuah pelajaran, menjadikan dia pembimbing sekaligus korban, hanya agar aku mengerti… bahwa sesungguhnya mencintai itu tidak berharap akan sebuah perubahan individu, bahwa menerima apa adanya berarti tulus, sungguh tulus–seperti dia

No comment »