what (really) happened that night
beribu masa kubiarkan diriku terjerat dalam kesunyian, kubiarkan pula memori dan pikiran melayang masuk dan keluar, atau tinggal dalam kepalaku untuk sekedar dibayangkan bahkan ditertawakan.
maka begitu pula hari ini. saat langit tak lagi biru dan mentari telah malas menggantung di langit, kelanaku kembali datang dan perlahan menggila. yang satu ini selalu tinggal lebih lama dibandingkan beribu ingatan lainnya. ia lebih membekas dan melukai. dan aku kembali diam, perlahan memutar setiap detail kecilnya, hampir… hampir saja terlupa dan hilang
berawal dari perjalanan menuju surga, dimana seolah langit dan bumi bersatu diujungnya, hari itu, malam itu, seharusnya menjadi malam yang indah. dengan gemuruh lembut melagu jauh dibelakang telingaku dan bulir bulir coklat merasuk disela jari kakiku. langkahku terasa ringan mulanya, dengan segenggam keluguan yang sudah setengah rusak, (sungguh aku telah rusak bahkan jauh sebelum malam itu, karenanya pula…) kuletakkan percaya dan sisa keluguanku dirindang pohon. namun perlahan ia mewujud, merah, besar dan menggeliat, dan aku tak suka. karena aku mengenalnya dengan separuh jiwaku yang telah rusak, aku tahu siapa itu. ia semakin kuat, semakin besar, dan aku semakin hancur. kutumpahkan segala air mata, jerit dan umpat, tapi si lugu sudah pergi. ia terpaksa pergi, karena sudah tak pantas ia kumiliki. kalah ia pada sewujud merah yang mendesak. kalah ia pada geliat kasar dibawah sana… sungguh kalah dan musnah. maka dewasalah aku, dengan jiwa dan raga rusak, terseok menelusuri sisa garis hidupku.
aku perlu melepas ini, seluruh kemayaan dan harapan bahwa aku dan si lugu masih sama. perlu menerima diri dan jiwa hancur ini, menjadi aku. maka kutuliskan baris kata kata ini. bukan untuk setetes air mata darimu, bukan untuk ucap pilu darimu pula. bukan. ini untuk aku dan diriku. untuk memahami malam itu sepenuhnya.