Archive for October, 2006

what (really) happened that night

beribu masa kubiarkan diriku terjerat dalam kesunyian, kubiarkan pula memori dan pikiran melayang masuk dan keluar, atau tinggal dalam kepalaku untuk sekedar dibayangkan bahkan ditertawakan.
maka begitu pula hari ini. saat langit tak lagi biru dan mentari telah malas menggantung di langit, kelanaku kembali datang dan perlahan menggila. yang satu ini selalu tinggal lebih lama dibandingkan beribu ingatan lainnya. ia lebih membekas dan melukai. dan aku kembali diam, perlahan memutar setiap detail kecilnya, hampir… hampir saja terlupa dan hilang

berawal dari perjalanan menuju surga, dimana seolah langit dan bumi bersatu diujungnya, hari itu, malam itu, seharusnya menjadi malam yang indah. dengan gemuruh lembut melagu jauh dibelakang telingaku dan bulir bulir coklat merasuk disela jari kakiku. langkahku terasa ringan mulanya, dengan segenggam keluguan yang sudah setengah rusak, (sungguh aku telah rusak bahkan jauh sebelum malam itu, karenanya pula…) kuletakkan percaya dan sisa keluguanku dirindang pohon. namun perlahan ia mewujud, merah, besar dan menggeliat, dan aku tak suka. karena aku mengenalnya dengan separuh jiwaku yang telah rusak, aku tahu siapa itu. ia semakin kuat, semakin besar, dan aku semakin hancur. kutumpahkan segala air mata, jerit dan umpat, tapi si lugu sudah pergi. ia terpaksa pergi, karena sudah tak pantas ia kumiliki. kalah ia pada sewujud merah yang mendesak. kalah ia pada geliat kasar dibawah sana… sungguh kalah dan musnah. maka dewasalah aku, dengan jiwa dan raga rusak, terseok menelusuri sisa garis hidupku.

aku perlu melepas ini, seluruh kemayaan dan harapan bahwa aku dan si lugu masih sama. perlu menerima diri dan jiwa hancur ini, menjadi aku. maka kutuliskan baris kata kata ini. bukan untuk setetes air mata darimu, bukan untuk ucap pilu darimu pula. bukan. ini untuk aku dan diriku. untuk memahami malam itu sepenuhnya.

Comments (3) »

apa itu rindu?

semudah itu kuucapkan kata rindu padamu, semudah itu pula kumuntahkan kata yang sama pada sejuta orang lain yang percaya. Apa kau juga percaya? Atau kau juga sama sepertiku? pemilik kata-kata yang agung…
Tapi kalau kau tanya apa aku merasa sakit saat kau hilang dari sudut mataku, dengan yakin kuanggukkan seluruh kepalaku, sampai ia berguncang. Sungguh ada gumpal-gumpal kesal menyumbat aliran udaraku seandainya aku tak tahu dimana tubuhmu terbaring, atau jiwamu berkelana.
Seandainya juga kau tanyakan, apa aku gelisah mencari-cari alasan untuk sekedar bertukar kata denganmu, maka lagi lagi kau benar. sudah kusiapkan pula rencana-rencana untuk mencuri kata darimu, terus dan terus…
apa benar seperti itulah wujud rasa dari rindu? sekompleks itu…
atau ia seperti gelitik ringan dalam dadaku, atau sebuah lubang besar berangin di perutku? sesederhana itu…

aneh rasanya bertanya apa artinya, atau apa rasanya, benarkah aku merasakannya?

No comment »