Archive for August, 2006

finally lulus

Maret 15 lalu, pernah kutuliskan sebuah paragraf berisi rasa panik dan takut akan sebuah proses TA yang berubah menjadi sinisme dan frustasi berlebihan pada dunia dan diri sendiri. Barisan kata-kata yang seolah bukan ‘Muli’ yang dikenal, atau bahkan kukenal. Tapi itulah Aku, dengan segala kontradiksi didalamnya, hanya Aku yang seutuhnya…

Agustus lalu, pernah kutuliskan pula deret-deret kata-kata yang berisi hujatan dan sinisme lainnya. Sebentuk rasa yang lahir dari kepanikan, rasa takut, minder dan pesimis. Sebuah ‘Muli’ lain yang rasanya semakin tak dikenal, dan aku pun tak kenal ‘Aku’. Rasanya bener-benar bukan aku…

Sekarang aku telah memiliki label, para algojo sudah mengayunkan pisau pancungnya dan para hakim mengetuk-ngetuk bangga pada palunya. Pengadilan telah ditutup. Dan para tertuduh telah menerima labelnya, termasuk aku. Ditorehkan kasar pada kulit wajahku, agar semua orang bisa melihatnya, dan ikut-ikutan menjadi hakim jalanan. Owh astaga, itulah ia di mata masyarakat!!

Dan dengan rasa tanpa terima kasih, telah kutepis seluruh label itu. Sebuah label yang seharusnya kupakai dengan bangga - kalau perlu kupamerkan pada semua, paksa mereka untuk melihat. Tapi sungguh, jauh di dalam bilik hatiku, ada secuil rasa tak percaya dan tak puas yang muncul, perlahan tumbuh dan tumbuh, memenuhi bilik sempit ini. Apa benar aku adalah ‘Aku’ yang mereka lihat? Atau ini hanya buah mimpi yang sangat panjang, dan saat aku bangun, semuanya menjadi sangat menyakitkan… Aku merasa ‘Aku’ adalah kurang, sangat kurang…

Sungguh, aku semakin takut menghadapi semuanya dengan label baru di wajahku ini. Dan semakin takut aku, maka ‘Aku’ akan semakin sinis pula…

No comment »

dilema rindu

Saat aku pergi, mengarungi batas ruang dan waktu, melewati lapis demi lapis langit yang membiru, apakah kau akan mengingatku? Atau setidaknya memberi tempat untukku dalam ruang ingatanmu, untuk sewaktu-waktu kau toleh, saat kau sedang bosan atau milikmu di masa sekarang tak lagi mampu memuaskanmu.

Saat aku menjauh, mencoba memberi ruang pada diriku dan dirimu, untuk kita bernafas dan berpikir, apakah kau akan mencoba mendekat? Atau setidaknya diam di tempatmu berada sekarang, agar suatu saat aku memutuskan untuk kembali, aku dapat menemukanmu dalam keanggunanmu.

berikan padaku sedikit janji, atau setidaknya seulas senyum yang meyakinkan, bahwa kau akan tetap sama, persis seperti sekarang, bahwa aku akan bisa bilang dengan yakin, aku masih memiliki sebagian hatimu, atau setidaknya secuil ruang dalam hatimu yang terdalam… untuk kubanggakan dan kusanjung, bahwa ternyata aku pantas disimpan dalam hatimu, meski hanya sedikit atau sebentar lalu

karena seperti itu pula aku akan memberimu kepastian, bahwa aku takkan berubah, dan saat nanti kita berada dalam satu ruang dan satu waktu, kau akan lihat bahwa betapa kau telah memiliki hatiku, tetap sama…

No comment »

Kujual Diriku

Mari Bersorak!!!

Untuk apa? Untuk sebuah kenaikan status, dari para pelajar naif dan bersemangat menjadi apa yang disebut salah satu teman g ‘pelacur grafis’… Astaga!!! Setelah perjuangan panjang yang melibatkan banyak pengorbanan darah, air mata, keringat dan segala sesuatunya yang bisa dikorbankan termasuk uang… kita hanya akan menjadi bagian dari sebuah prostitusi terorganisir… Dimana di dalamnya, aku dan kamu - para teman-teman seperjuangan akan saling menjajakan diri - murah, hina dan penuh lumpur! Siapa yang paling murah, paling menor, paling hebat memuaskan klien dan bos tercinta, itulah primadonanya…

hei hei… mari bersama menjual diri, biar kupoles bibirku merah-merah, dengan darah yang mengucur dari balik kulitku selama empat tahun dan tampil semenor mungkin…

Comments (3) »