Archive for July, 2006

persimpangan jalan

sebuah jalan telah digariskan untukku, untukmu dan untuknya. Sebuah jalan yang seharusnya tidak bersinggungan seperti ini. Tapi, entah karena memang seharusnya ia bercabang, atau hanya akulah yang telah membuatnya seperti ini, Ia terbelah, menabrak banyak jalan-jalan lainnya, milikmu dan miliknya pula. Merusak dan menghancurkan pondasi-pondasi akal dan pikiran milikmu dan miliknya. Sungguh sebuah dosa melibatkan orang-orang sebaik dirimu dan dirinya dalam kelam duniaku dan batinku. Sekarang saat cabang dan persimpangan ini terlihat nyata, aku tak tahu harus memilih yang mana… dan jujur kuakui bahwa aku ingin menjalani keduanya, dengan rakus dan egois, aku sungguh takut terluka. Tapi dengan ketakutanku ini aku telah menggoreskan luka padamu dan padanya, hingga nganganya terbuka dan mengalirkan segala derai air mata dan darah… Kepalaku penuh dan hatiku sesak, aku takut sakit, tapi aku telah terlalu sakit… Dan kita telah lelah akan derita dan kesakitan yang melanda, tapi sungguh aku tak rela melepas persatuan cabang jalan milik kita… Maaf bahwa aku membutuhkan rasa aman akan jalan ini, keyakinan bahwa setidaknya aku akan memiliki apa yang kau sebut sebuah bahagia, maaf bahwa aku merasa tak sanggup membiarkan rasa ini tak berbalas…
Beritahu aku mana yang harus kupilih, jalanmu atau jalannya, atau tidak keduanya… Agar aku tak lagi menoleh pada jalan yang satu dan berharap pada ribuan seandainya, seandainya, seandainya…
Kini perlahan-lahan… aku menggoreskan sebentuk jalan baru, milikku seorang, jauh terpisah dari milikmu dan miliknya. Sebuah jalan kecil, pelarian batinku, dan hukumanku atas diriku sendiri. Di jalan ini, kau atau dia takkan terlibat, hanya aku dan hatiku. Biar aku membawa dan membenahi serpih hati ini, dan seandainya… seandainya memang sudah digariskan bahwa jalan ini harus bersinggungan dengan jalanmu pula, maka biarlah kita memulai dari awal, memulai dengan lebih baik dan seharusnya…

Comments (2) »

Seperti itulah aku mencintaimu

Aku orang yang rakus dan egois, serakah!
Kalau kau beri aku sedikit, aku akan meminta lebih.
Kalau kau beri aku banyak, aku pun akan meminta lebih.
Kalau kau beri aku semua, aku tetap akan meminta lebih.
Hingga tak tersisa apapun darimu untuk orang lain, karena semua telah kumiliki seorang.
Tapi aku adil dan jujur,
Sebanyak itu yang kau beri, sebanyak itu pula aku memberimu kembali – bahkan lebih.
Maka serahkan apa yang kumau – seluruh hatimu, dan kau pun akan dapat balasan setimpal – dengan senang hati aku akan memberimu seluruh hatiku, sungguh!

No comment »

Maaf

Aku bersalah – padamu, dia dan dia.
Aku sadari itu; seperti kilau petir di malam berhujan.
Tapi sebagian jiwa ini – bagian yang paling kotor tentunya – seolah tak peduli.
Aku bersalah – padamu, dia dan dia.
Aku tahu itu; sejelas bulan perak di malam mendung.
Dan aku tetap mencari-cari pembenaran atas segala dosa ini;
Tapi aku tahu – sungguh tahu, hanya aku yang pantas disalahkan – bukan kau, dia atau dia
Aku melibatkan kau, dia dan dia dalam pergulatan jiwaku sendiri,
Menyeret kau, dia dan dia dalam pertentangan batinku seorang,
Dan jahatlah aku… melempar tanggung jawab ini pada orang lain,
Pada seorang dia di masa lalu.
Maafkan aku, sungguh aku bersalah
Tapi jauh di dalam hati ini – bagian paling kelam pula – berkata aku menyukai dosa ini.

No comment »

Cemburu

Apabila manusia dinilai dari kulitnya, maka apa nilaiku?
Karena lepuhlah pembungkusku.
Apabila manusia dinilai dari isinya, maka apa pula nilaiku?
Karena busuklah dagingku – dan begitu pulalah hatiku.
Lapuk dalam masa, keropos dalam ruang.

Buruk rupaku, buruk pula hatiku;
Tergerogoti kuman-kuman iri;
Dan perlahan berlubang-lubang cemburu dan dengki.
Aku iri padanya – pada hatimu yang ada padanya – tapi tak kupunya;
Aku cemburu padanya – pada kau yang menjadi miliknya – bukan milikku;
Aku dengki padanya – pada setiap waktumu yang memihak padanya – tidak padaku.

No comment »