April 23, 2006
· Filed under Poet
sungguh aku tak dapat paham
salah ini salah siapa?
salah ku atau kamu atau mereka atau kita semua
aku tak mampu merasa
atas cinta yang mungkin paling hakiki
lalu aku menyalahkan trauma dan masa lalu
atas ajaran dan contoh yang buruk
kemudian aku mnyalahkan dia dan takdir hinanya
untuk menuntut apa yang tak sepantasnya
dan aku menyalahkan lingkungan dan kalian pula
untuk pembebasan batasan
tapi, haruskah aku menyalahkan diri sendiri dan takdirku
untuk tak mampu menjadi budak cinta?
April 23, 2006
· Filed under Poet
Ia indah, seindah mimpi di malam panjang
berkilau dan berpendar lembut
dan aku terpaku padanya
dan seperti mimpi pula… Ia semu,
semaya mimpi di ujung pagi
bayangnya tak lagi dapat kutemukan
Ia tersaput mentari
jauh kembali pada sudut malam
kalau Ia adalah mimpi,
kenapa Ia begitu indah
napasnya terasa dalam setiap pertemuan kami
dan semua waktu milik kami
begitu membekas dalam detak jantungku
Tapi kalau Ia adalah nyata
kenapa aku tak bisa memilikinya saat hari sedang tersenyum
seolah pagi tak mampu menerimanya
karena Ia adalah milik malam, seutuhnya…
dan aku harus melewati hari
hanya untuk melihatnya sekali lagi
dan berharap mampu memilikinya, seperti malam memilikinya
April 4, 2006
· Filed under thoughts
Beberapa hari lalu g ditanya sama teman, “Apa sih itu cinta?” dan g ga bisa jawab, tepatnya ga berani menjawab apa yang muncul dipikiran g saat itu…
Sementara semua orang - mereka yang juga kebagian pertanyaan yang sama, menjawab banyak hal-hal manis dan indah, apa benar begitu?
Kira-kira ini isi pikiran g saat itu…
Cinta adalah seonggok daging merah muda pada pertemuan kedua kaki, baik milikku atau milikmu, laki-laki dan perempuan. ia berbalut kata mesra dan kasih sayang, seperti ia memakai pakaian. Kalau kau tega merobek, mengoyak atau hanya menggores sedikit kulit arinya, maka akan kau lihat - apa yang telah kulihat. Ia bukan perasaan yang lembut, ia menuntut, menegang demi dirinya, kepuasannya dan kedamaiannya sendiri. Bukan milikku atau milikmu, laki-laki dan perempuan. Ia bergerak kasar, menggosok dan menerobos, entah tanpa sadar atau sangat sadar, merusak pikiran dan jiwamu. Atau bahkan tubuhmu, si pengkhianat itu. Ia bisa merusaknya atau menyanjungnya. Cinta adalah sesaat setelah bakteri menyemprot keluar dari tubuhmu, dan kau melemah. Tanpa bisa berkata atau berbuat apapun, maka kau pikir itu cinta.
Aku - yang mungkin menurutmu penghujat atas apa yang diagung-agungkan dunia, telah melihat isi otak dan perut Cinta, dan aku tidak menyukainya. Sungguh! Wajahnya buruk, dibalik kulitnya, aku temukan busukan-busukan yang ditimbun, lama telah mengompos, tapi bukan pupuk.
Semoga tak kau lihat, apa yang ku lihat. Kau pun takkan suka.