March 20, 2006
· Filed under Current Affairs
Seindah rasa pada permulaan dimana semuanya bermula, aku menemukan Dia. Entah terdampar, terkapar atau memang disanalah Dia berada selama ini dengan anggun, aku terpikat. Kami terpikat, satu sama lain, atau setidaknya begitulah menurut gambar diam dalam pikiranku.
Dia telah mengoyak dan meluruhkan sebagian hatiku, untuk dengan paksa dimilikinya sendiri, menjadi jubah dan mahkotanya atas diriku; dan sebagian lagi kuserahkan dengan rela. Atau ternyata, Aku-lah yang memaksa Ia mengambil kulit-kulit ari pikiran dan hatiku, secara paksa pula. Kuberikan padanya, hampir seluruh lapisan itu, kukoyak kasar, besar-besar, dan dengan rakus kujejalkan padanya, tanpa sabar dan halus, Ia harus mau menerima ini!! Dan nanti dapat dengan tanpa rasa malu kukatakan pada semua yang mau, bersedia, atau setidaknya berpura-pura mendengarkan, IA-lah yang mengambilnya dariku…
Atau ternyata Ia tidak mengambil atau menerima apa-apa, Aku pun tidak memberikan atau kehilangan apa-apa pula, hanya dalam kotak hitam imaji ku, Aku melihat dan merasa Ia melakukannya, dan Aku telah tenggelam dalam kubang puas dan bahagia… Biar saja Aku tertarik dalam hina rasaku sendiri, jangan sampai Ia tahu… jangan sampai Ia sadar rencana indah ku atasnya.
Selama Ia berada di sana, terdampar, terkapar atau memang disanalah tempatnya berdiri dengan anggun, aku tercukupi. Tak perlu Ia sampai merogoh pikiranku pula, cukup hatiku saja.
March 15, 2006
· Filed under Books
Aku terdiam…
keindahan dalam bentuk yang paling buruk rupa, dan keburukan dalam bentuk yang paling indah
Aku terpengaruh…
menembus batas nyata dan tak nyata, aku dibawa
sebuah gumpalan kata dan frasa penuh makna yang menohok-nohok pikiran
Aku terjatuh…
dalam ke-takberperasaan manusia
hingga batin merindu pada rasa
Thanks Pak Mendi, ini buku yang oke banget…
March 15, 2006
· Filed under thoughts
Setelah kurang lebih 3 1/2 tahun berkutat dengan apa yang disebut kuliah, sekarang sudah waktunya palu pengadilan dijatuhkan, apakah aku pantas disebut sarjana, atau hanya sekedar pantas menyandang embel-embel dibelakang nama yang sebenarnya sudah cukup panjang…
proses singkat selama beberapa bulan ini akan menjadi penentu label seumur hidup, apakah aku desainer yang hebat atau tidak, atau hanya apakah aku telah berhasil menjadi sarjana hebat dengan nilai-nilai cemerlang yang katanya membuatku lebih mudah diterima di dunia kerja. Sebuah beban mengerikan yang harus ditanggung selamanya, apabila kegagalan atau hanya kepleset sedikit, maka aku telah gagal!!
Siapa yang berhak menentukan aku adalah kegagalan atau keberhasilan yang kecil dalam dunia? bukankah itu adalah hak istimewaku atas diriku sendiri? bukan milik siappun!
Apa sebenarnya batasan para algojo pembawa palu untuk melabelku dengan angka-angka atau huruf-huruf sakti?
Apa harga dari menjadi seorang desainer yang hebat, atau apa harga untuk tidak? Itu dengan mudah bisa dijawab ratusan, ribuan orang. Jawaban-jawaban meremehkan mereka yang dilabeli gagal, menghempas mereka dalam jurang tidak berharga, hina, sampah. Lalu diam-diam menjadi trauma pada bibit-bibit dan tunas muda. Jangan gagal. Jangan. Jangan. Jangan! JANGAN!!! lalu lemah, jangan… perlahan memohon, mengharap, semoga j a n g a n . . .
Aku, sebuah tunas tua yang mengisut dalam diam - memaksa pikiran itu untuk berhenti, tapi ia seperti gasing yang berputar cepat bagai gila, menabrak setiap dinding pikiran dan imajinasiku. Menabrak dan terus menabrak, tapi tidak berhenti, tidak juga lecet. Ia kuat. Ia tidak akan lelah. Hanya aku yang lemah. Maafkan kelemahan ini…
Aku, yang dikategorikan secara kasar dalam golongan akan berhasil - padahal dalam batasanku sendiri, aku, sampah gagal yang kebetulan sesuai dengan golongannya - merasa ragu akan seonggok kemampuan dan timbunan kerja keras dalam lemariku. Sudah cukupkah? Atau terlalu banyak? Atau sama sekali kurang? Atau ternyata tidak ada yang bisa kusebut dengan seonggok kemampuan dan timbunan kerja keras itu sama sekali?